Masyarakat sudah mulai sadar akan wilayah yang ditinggalinya, apakah termasuk area aman atau tak terhadap petaka. Peta hasil Sentra Survei Geologi menjadi acuannya.
Pusat Survei Geologi (PSG), satu di antara institusi pemerintah yang punya sejarah merentang sangat panjang. PSG sudah ada di zaman Hindia–Belanda, 1820, dirintis oleh Dienst van Het Mijnweezen dan sesudah berubah-ubah nama, semenjak tahun 2006 namanya menjadi Sentra Survei Geologi.
Kepala PSG, Eko Budi Lelono, mengatakan institusi yang dipimpinnya itu bertanggungjawab menyediakan data dasar kebumian dan data dasar sumber tenaga migas. Seumpama, berdasarkan inovasi lapangan, Indonesia terdapat 128 cekungan. Dari jumlah tersebut baru 54 cekungan yang sudah disurvei dan 74 cekungan belum disurvei.
“54 cekungan yang telah disurvei, 18 cekungan sudah produksi, 12 cekungan ditemukan minyak dan 24 cekungan sudah dibor tapi tak ditemukan minyak. Adapun 74 cekungan yang belum disurvei berpotensi memiliki minyak dan gas sekiranya mengamati hasil dari 54 cekungan yang telah dieksplorasi,” ujar Eko kepada Trust News.
Itu juga dengan kawasan Indonesia Timur, lanjutnya, ada cadangan gas di blok Masela. Secara geologi di area hal yang demikian banyak memiliki cadangan gas. Tetapi masih perlu dikerjakan survei untuk mengidentifikasi keberadaannya.
Namun secara keseluruhan, lanjutnya, PSG bertugas membuat bermacam peta kawasan, baik peta tematik maupun peta sistematik. Misal peta geologi, memberikan ilustrasi suatu daerah secara rinci mulai dari tubuh batuan, penyebaran batuan, kedudukan unsur struktur geologi dan kekerabatan antar satuan batuan serta merangkum bermacam data lainnya.
“Data-data lain yang dimaksud dalam peta geologi seperti data indikasi eksistensi migas via adanya terembesan minyak yang keluar atau ketika mengerjakan survei di hutan adakalanya menemukan adanya sumber-sumber minyak padahal hanya berupa rembesan, itu sudah adalah indikasi adanya potensi,” ungkapnya.
Demikian juga dari sisi kebencanaan, PSG menemukan patahan-patahan yang benar-benar berpotensi via suatu kota besar. Patahan-patahan ini dapat memicu gempa yang mengakibatkan kerusakan di daerah-daerah yang dilewatinya.
Termasuk juga tugas PSG yakni melaksanakan pemetaan kuarter untuk mengetahui jenis-jenis lapisan tanah dimana suatu bangunan didirikan. Eko menuturkan, semenjak 2012 lalu, menurut pemetaan kuarter PSG telah mengidentifikasi kemungkinan terjadinya likuifaksi di Palu. Cuma saja, persoalan ini tak menjadi perhatian serius lantaran beraneka pihak yang tidak mengindahkan peringatan hal yang demikian.
Musibah demi petaka bahkan terjadi. Berdasarkan Eko, kenyataan ini membikin pemerintah tempat (Pemda) mulai memberikan perhatian lebih kepada kondisi daerahnya dengan memandang peta-peta geologi yang PSG buat dan sebarkan.

“Pemda-pemda mulai peta geologi memperhatikan letak geografis zonanya berada di zona aman atau tak kepada petaka, kawasan mana yang ada patahan, kawasan mana yang ada sesar, wilayah mana yang ada likuifaksinya dari situ dapat diatur daerah-tempat mana saja yang aman untuk dihasilkan wilayah hunian,” paparnya.
Pemakaian peta-peta PSG, ungkapnya, menjadi bahan pemerintah untuk meminimalisir korban jiwa. Misalnya, hunian penduduk ternyata berada di jalanan patahan yang kapan saja bisa terjadi bencana, oleh pemerintah setempat bisa diciptakan acuan untuk merelokasinya ke kawasan yang aman.
“Ini menyangkut korban jiwa, karena tak ada yang dapat memprediksi kapan bencana terjadi,\" pungkasnya