Getting My peta geologi To Work

Peta geologi di wilayah Sulawesi Tengah mengenai pengaruh dan potensi petaka di Sulteng sebagai referensi revisi Agenda Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Sulteng 2018-2038, segera Dirilis Badan Geologi. Direncanakan peta geologi itu diserahkan terhadap Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulteng pada 11 November 2018 mendatang.

Demikian disampaikan Gubernur Sulteng, Longki Djanggola dikala menyajikan sambutan pada kegiatan Seminar Nasional ‘Gempa Bumi, Tsunami dan Likuifaksi di Sulawesi Tengah: Sebuah Pembelajaran Bagi Mitigasi Musibah’ di salah satu hotel di Kota Palu, Rabu (7/11/2018).

Menurut Gubernur Longki Djanggola, revisi RTRW ialah konsekuensi pengaruh petaka menimpa Kota Palu, Sigi dan Donggala (Pasigala) serta Parigi Moutong pada 28 September 2018 lalu. Revisi RTRW bakal disesuaikan di segala kabupaten dan kota di Sulteng dengan memasukkan dampak-pengaruh, pengaruh serta mitigasi petaka.

“Saat ini Pemerintah Daerah Sulawesi Tengah sedang merancang revisi RTRW. Melainkan, kita masih menunggu rilis peta geologi seputar dampak Sesar Palu-Koro dan tempat yang berpotensi likuifaksi. Peta itu yang akan kita jadikan rujukan dalam revisi RTRW. Oleh Badan Geologi, menjanjikan kepada kami menyerahkan akhirnya pada 11 November 2018,”kata Gubernur Longki.

Sebagai ilustrasi, kata Gubernur Sulteng, peta geologi bencana bakal dibagi menjadi empat area. Salah satu area, kata ia, dinamai zona merah. Zona merah merupakan kawasan yang dilarang bagi masyarakat membangun ataupun menjalankan kesibukan di atasnya.

“Ada pula zona yang nantinya hanya boleh berkesibukan lazim. Tetapi, tidak boleh mambangun gedung atau pemukiman di atasnya,” katanya.

Senada, Kepala Sub Bidang Evaluasi Geologi Teknik, Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan Badan Geologi, Ginda Hasibuan, mengatakan, Kota Palu dan Kabupaten Dongala ialah kawasan yang termasuk pada zona Kawasan Rawan Petaka (KRB) gempa bumi tinggi. Sehingga, sangat perlu dilaksanakan revisi RTRW untuk kepentingan pembangunan di masa mendatang.

Sehingga, kata dia, dikala ini Badan Geologi sedang membuat peta wilayah potensi petaka untuk wilayah Sulteng.

“Insya Allah, 11 November 2018 mendatang, peta itu sudah diserahkan terhadap Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Tengah,” kata Ginda Hasibuan.

Menurutnya, pemanfaatan dan penataan ruang dan kawasan seharusnya melihat aspek potensi resiko bahaya.

“Begitupun pengontrolan pembangunan, mesti mengamati resiko bahaya dan pengawasan penerapan ketentuan dalam rancang bangun bagi infrastruktur vital,” kata dia.

Dikenal, kegiatan Seminar Nasional ‘Gempa Bumi, Tsunami dan Likuifaksi di Sulawesi Tengah: Sebuah Pelajaran Bagi Mitigasi Musibah’, diinisiasi Aksi Kencang Tanggap (ACT). Kegiatan itu menghadirkan sejumlah pemateri, yaitu Kepala Sub Bidang Evaluasi Geologi Teknik, Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan Badan Geologi, Ginda Hasibuan, Peneliti Sesar Palu-Koro, Abdullah, Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono dan dan Kedeputian Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB, Sridewanto Edi Pinuji.

Hadir pada kans itu, Gubernur Sulteng, Longki Djanggola, President Aksi Kencang Tanggap (ACT), Ahyudin, Bupati Donggala, Kasman peta geologi Lassa, Kepala Dinas Cipta Karya dan Sumber Energi Air (CKSDA) Sulteng, Saliman Simanjuntak, Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Musibah Daerah (BPBD) Sulteng

Top peta geologi Secrets

Masyarakat sudah mulai sadar akan wilayah yang ditinggalinya, apakah termasuk area aman atau tak terhadap petaka. Peta hasil Sentra Survei Geologi menjadi acuannya.

Pusat Survei Geologi (PSG), satu di antara institusi pemerintah yang punya sejarah merentang sangat panjang. PSG sudah ada di zaman Hindia–Belanda, 1820, dirintis oleh Dienst van Het Mijnweezen dan sesudah berubah-ubah nama, semenjak tahun 2006 namanya menjadi Sentra Survei Geologi.

Kepala PSG, Eko Budi Lelono, mengatakan institusi yang dipimpinnya itu bertanggungjawab menyediakan data dasar kebumian dan data dasar sumber tenaga migas. Seumpama, berdasarkan inovasi lapangan, Indonesia terdapat 128 cekungan. Dari jumlah tersebut baru 54 cekungan yang sudah disurvei dan 74 cekungan belum disurvei.

“54 cekungan yang telah disurvei, 18 cekungan sudah produksi, 12 cekungan ditemukan minyak dan 24 cekungan sudah dibor tapi tak ditemukan minyak. Adapun 74 cekungan yang belum disurvei berpotensi memiliki minyak dan gas sekiranya mengamati hasil dari 54 cekungan yang telah dieksplorasi,” ujar Eko kepada Trust News.

Itu juga dengan kawasan Indonesia Timur, lanjutnya, ada cadangan gas di blok Masela. Secara geologi di area hal yang demikian banyak memiliki cadangan gas. Tetapi masih perlu dikerjakan survei untuk mengidentifikasi keberadaannya.

Namun secara keseluruhan, lanjutnya, PSG bertugas membuat bermacam peta kawasan, baik peta tematik maupun peta sistematik. Misal peta geologi, memberikan ilustrasi suatu daerah secara rinci mulai dari tubuh batuan, penyebaran batuan, kedudukan unsur struktur geologi dan kekerabatan antar satuan batuan serta merangkum bermacam data lainnya.

“Data-data lain yang dimaksud dalam peta geologi seperti data indikasi eksistensi migas via adanya terembesan minyak yang keluar atau ketika mengerjakan survei di hutan adakalanya menemukan adanya sumber-sumber minyak padahal hanya berupa rembesan, itu sudah adalah indikasi adanya potensi,” ungkapnya.

Demikian juga dari sisi kebencanaan, PSG menemukan patahan-patahan yang benar-benar berpotensi via suatu kota besar. Patahan-patahan ini dapat memicu gempa yang mengakibatkan kerusakan di daerah-daerah yang dilewatinya.

Termasuk juga tugas PSG yakni melaksanakan pemetaan kuarter untuk mengetahui jenis-jenis lapisan tanah dimana suatu bangunan didirikan. Eko menuturkan, semenjak 2012 lalu, menurut pemetaan kuarter PSG telah mengidentifikasi kemungkinan terjadinya likuifaksi di Palu. Cuma saja, persoalan ini tak menjadi perhatian serius lantaran beraneka pihak yang tidak mengindahkan peringatan hal yang demikian.

Musibah demi petaka bahkan terjadi. Berdasarkan Eko, kenyataan ini membikin pemerintah tempat (Pemda) mulai memberikan perhatian lebih kepada kondisi daerahnya dengan memandang peta-peta geologi yang PSG buat dan sebarkan.

“Pemda-pemda mulai peta geologi memperhatikan letak geografis zonanya berada di zona aman atau tak kepada petaka, kawasan mana yang ada patahan, kawasan mana yang ada sesar, wilayah mana yang ada likuifaksinya dari situ dapat diatur daerah-tempat mana saja yang aman untuk dihasilkan wilayah hunian,” paparnya.

Pemakaian peta-peta PSG, ungkapnya, menjadi bahan pemerintah untuk meminimalisir korban jiwa. Misalnya, hunian penduduk ternyata berada di jalanan patahan yang kapan saja bisa terjadi bencana, oleh pemerintah setempat bisa diciptakan acuan untuk merelokasinya ke kawasan yang aman.

“Ini menyangkut korban jiwa, karena tak ada yang dapat memprediksi kapan bencana terjadi,\" pungkasnya

The Greatest Guide To peta geologi

Pengetahuan geologi regional wilayah Indonesia sudah berkembang kencang, seiring pula dengan telah selesainya pemetaan geologi sistematik pada tahun 1995 dengan skala 1:100.000 untuk Pulau Jawa dan dan Madura serta skala 1:250.000 untuk pulau di luarnya. Data-data yang didapat dari berjenis-jenis aspek kegeologian dan geofisika yang sudah terkumpul selama lebih dari 50 tahun sudah menjadi suatu informasi yang sangat besar. Keperluan akan info geologi yang tertuang dalam skala peta yang lebih besar meningkat dengan kencang. Tingkat kebutuhan tersebut terkait dengan programprogram kerja untuk pengembangan pembangunan nasional serta perkembangan industri. Pencarian sumbar energi geologi berupa mineral dan daya, air tanah, perencanaan wilayah dan kebencanaan geologi ialah topik-topik utama yang mendasari untuk dijalankannya pemetaan geologi dengan skala 1:50.000. Sejak tahun 2010, Badan Geologi Kementerian Tenaga dan Sumber Kekuatan Mineral sudah berupaya untuk memulai pemetaan geologi yang diawali oleh kegiatan Interpretasi Geologi Berdasarkan data Inderaan Jauh yang dikombinasikan dengan data-data survei lapangan yang telah ada sebelumnya. Metodologi dalam melakukan interpretasi didasarkan pada analitik dan interpretasi visual aspek-aspek morfo-struktur dan lithologi dengan verifikasi di lapangan serta disokong oleh spot-titik pengamatan lapangan dari survei sebelumnya. Faktor-unsur dalam interpretasi sudah diatur dalam sistematika kerja sebagai kunci rujukan untuk bisa mengenali obyek-obyek geologi dalam citra inderaan jauh. Persiapan data-data dijital dijalankan dalam suatu metode berita geografis (SIG) yang meliputi pembuatan shadded relief Komputerisasi Surface Contoh (DSM) dari citra radar, intensity layer orthorectified images (ORRI), pola pengaliran, komposit warna dari citra optis, image fusion dari citra radar dan optis. Rapid mapping memakai metode interpretasi geologi permukaan dengan mengkaji secara semi-digital data optis (Landsat) yang memiliki informasi spektral dan data radar (TerraSAR-X) yang memiliki kabar ketinggian dan terrain. Kwalitas data spasial mempunyai resolusi horisontal 5 meter (ORRI) dan 10 meter (DSM) pada data radar, padahal resolusi spasial 15 meter dan 30 meter untuk data optisnya (Landsat). Data-data tersebut digabungkan untuk bisa mengenali tekstur, rona, warna, ukuran, website wujud, asosiasi, dan lokasi dari karakteristik data spasial secara terperinci yang bertujuan untuk bisa mengenali obyek-obyek geologi seperti variasi, penyebaran dan batas satuan batuan di permukaan beserta struktur geologi yang mempunyai representasi berupa kelurusan-kelurusan. Hasil interpretasi dikenalkan dalam format digital dalam indeks peta skala 1:50.000 meniru indeks peta dari Badan Kabar Geospasial (BIG). Berdasarkan hasil penafsiran inderaan jauh, Lembar Sumber dan sekitarnya tertata oleh Endapan gunungapi kuarter hasil dari erupsi Gunung Ciremai, endapan alluvial, serta endapan sedimen berumur Tersier. Hasil interpretasi penginderaan jauh menonjolkan bahwa struktur geologi di Lembar Sumber dan sekitarnya terdiri dari sesar, perlipatan, jejak perlapisan dan kemiringan batuan (dip) yang di tafsir dari batuan sedimen berlapis. Sesar sesar pada lazimnya berarah baratlaut – tenggara, serta sebagian kecil berarah timurlaut – baratdaya.

Top latest Five peta geologi Urban news

Geologi regional yakni info tentang tatanan geologi suatu daerah dengan cakupan dan skala yang relatif luas. Geologi regional perlu dipelajari untuk memberikan gambaran biasa kondisi geologi di tempat penelitian dan menjadi dasar untuk dijalankannya interpretasi permulaan unsur-unsur geologi yang mempengaruhi situasi geologi tempat penelitian. Elemen-faktor geologi yang dapat ditinjau secara regional ialah fisiografi, morfologi, stratigrafi, dan struktur geologi regional.

Fisiografi dan Morfologi

Van Bemmelen (1949) membagi fisiografi Jawa Barat menjadi empat zona, merupakan:

• Dataran Aluvial Utara Jawa Barat (Alluvial Plains of Northern Java)

Zona ini terletak paling utara, memanjang dari ujung barat Pulau Jawa sampai ke kota Cirebon dengan lebar zona sekitar 40 km. Zona ini mempunyai morfologi berupa dataran yang biasanya ditutupi endapan sungai dan beberapa tertutupi endapan lahar gunungapi kuarter.

• Zona Bogor (Bogor Antiklinorium)

Zona Bogor membentang barat-timur dari Rangkasbitung, Bogor, Purwakarta, Subang, dan Sumedang, sampai ke Bumiayu di timur Zona Bogor, dengan lebar zona diperkirakan optimal 40 km. Area Bogor memiliki kenampakan berupa perbukitan rendah dengan struktur utama antiklin yang terlipat kuat berarah sumbu barat-timur. Di bagian timur Area Bogor sumbunya berubah arah menjadi berarah barat laut-tenggara, sehingga zona Area Bogor nampak sedikit melengkung dan lebih cembung di batas area komponen utara. Komponen inti dari Antiklinorium Bogor terdiri dari lapisan-lapisan batuan sedimen berumur Miosen, meskipun kedua sayap antiklinnya terbentuk oleh lapisan-lapisan batuan berumur Pliosen sampai Pleistosen Bawah. Setempat terdapat tubuh intrusi yang membentuk morfologi relief terjal seperti G. Kromong di Cirebon dan G. Sanggabuana di Purwakarta.

• Zona Bandung (Central Depression Zone of Java)

Zona ini memiliki kenampakan depresi diantara gunung-gunung muda yang memrentang membentuk lengkungan dari Pelabuhan Ratu mengikuti Lembah Cimandiri, via Kota Bandung, hingga ke Segara Anakan di muara S. Citanduy, dengan lebar more info zona antara 20–40 km. Menurut Van Bemmelen (1949), Zona Bandung mulanya yakni puncak geantiklin Jawa Barat yang kemudian ambrol sesudah terjadinya uplift dan terisi endapan gunungapi muda. Dibeberapa daerah terdapat tinggian yang terwujud dari endapan sedimen tua seperti G. Walat di Sukabumi dan Perbukitan Rajamandala di Kabupaten Bandung.

• Pegunungan Selatan Jawa Barat (Southern Mountain)

Pannekoek (1946) membagi zona ini kedalam 19 morfologi dan terjadinya dua generasi morfologi adalah morfologi Pra-Miosen Akhir dan morfologi Resen yang dikuasai oleh ketidak selarasan. Batas area Pegunungan Selatan Jawa Barat dengan Area Bandung dapat terlihat dengan perbedaan morfologi perbukitan bergelombang pada Area Bandung berbatasan dengan dataran tinggi area Pegunungan Selatan Jawa Barat.

Stratigrafi

Menurut mayoritas ciri sedimennya pada Zaman Tersier, secara lazim Martodjojo (1984) membagi tempat Jawa Barat kedalam tiga mandala sedimentasi:

• Mandala Paparan Kontinen

Mandala ini berada di utara Mandala Cekungan Bogor dan lokasnya sama dengan Zona Dataran Pantai Jakarta pada pembagian zona fisiografi Jawa Barat oleh van Bemmelen (1949). Mandala ini dicirikan oleh endapan paparan yang lazimnya terdiri dari batugamping, batulempung, dan batupasir kuarsa, serta lingkungan pengendapan umumnya laut dangkal dengan ketebalan sedimen dapat menempuh 5000 m. Pada mandala ini pola transgresi dan regresi umumnya jelas nampak.

• Mandala Cekungan Bogor

Mandala ini terletak di selatan Mandala Paparan Kontinen yang mencakup sebagian Area Fisiografi van Bemmelen (1949), merupakan: Area Bogor, Zona Bandung, dan Zona Pegunungan Selatan. Ciri mandala ini berupa endapan aliran gravitasi, yang lazimnya berupa fragmen batuan beku dan batuan sedimen, seperti: andesit, basalt, tuf, dan batugamping, dengan ketebalan diperkirakan lebih dari 7000 m.

• Mandala Banten

Mandala Banten berlokasi di timur dari Mandala Paparan Kontinen dan Mandala Cekungan Bogor. Mandala ini tak memiliki ciri yang begitu terang sebab sedikitnya data yang diketahui. Pada usia Tersier Permulaan, mandala ini lebih menyerupai Mandala Paparan Kontinen, padahal pada Tersier Akhir cirinya benar-benar mendekati Mandala Cekungan Bogor.

Berdasarkan Martodjojo (1984), formasi tertua yang menjadi dasar dari Mandala Cekungan Bogor yaitu Formasi Ciletuh yang berumur Eosen Permulaan. Formasi ini diendapkan diatas kompleks Mélange Ciletuh. Ciri litologi formasi ini berupa batulempung dan batupasir kuarsa dengan sisipan breksi, kaya fragmen batuan metamorf dan batuan beku ultrabasa. Bagian bawah dari formasi ini ditafsirkan sebagai endapan lereng atas dari suatu sistem akresi, berubah secara berangsur menjadi ke menjadi endapan linkungan laut dangkal di komponen atasnya. Pada Eosen Awal diendapkan pula Formasi Jatibarang dengan ciri batuan beku, tufa, dan sisipan batugamping.

Pada umur Eosen Tengah sampai akhir diendapkan secara selaras Formasi Bayah diatas Formasi Ciletuh yang memiliki ciri litologi batupasir kuarsa dan batulempung sisipan batubara. Menurut Martodjojo (1984) diperkirakan lingkungan pengendapan formasi ini ialah darat sampai laut dangkal. Kemudian pada Oligosen Akhir diendapkan secara tak selaras Formasi Batuasih dengan ciri litologi batulempung, napal sisipan batupasir kuarsa. Berdasarkan ciri batuannya, diperkirakan lingkungan pengandapan Formasi Batuasih yaitu lingkungan transisi.

Berbarengan dengan Formasi Batuasih, pada Oligosen Akhir hingga Miosen Awal diendapkan Formasi Rajamandala secara tak selaras diatas Formasi Bayah dan secara lateral bagian bawah Formasi Rajamandala menjari dengan Formasi Batuasih (Martodjojo, 1984). Formasi Rajamandala mempunyai ciri litologi berupa batugamping berlapis, dan di beberapa daerah berkembang sebagai terumbu (Ps. Pabeasan dan Tjahyo Hadi, 1972 dalam Martodjojo, 1984). Secara lateral macam batugamping formasi ini banyak berubah. Lingkungan pengendapan Formasih Rajamandala ialah laut dangkal.

Pada Miosen Awal diendapakan Formasi Citarum dengan litologi batulempung napalan, napal, batupasir, sampai batupasir konglomerat, dengan mekanisme pembentukannya merupakan aliran gravitasi. Pada ketika yang sama diendapkan pula Formasi Jampang yang terdiri dari breksi dan tuf di selatan Formasi Citarum. Diinterpretasikan kedua formasi hal yang demikian yaitu satu cara kipas laut dalam.

Pada Miosen Tengah diendapkan Formasi Saguling dengan litologi breksi secara serasi diatas Formasi Citarum dengan mekanisme endapan turbidit. Pada Miosen Tengah juga diendapkan Formasi Cibulakan dengan ciri litologi berupa napal, batulempung, dan batulempung gampingan secara tak serasi diatas Formasi Jatibarang.

Kemudian pada Miosen Tengah — Akhir Formasi Saguling ditutupi secara selaras oleh batulempung dan greywacke anggota Formasi Bantargadung. Kemudian Formasi Bantargadung ditutupi oleh breksi Formasi Cigadung dan breksi Formasi Cantayan di utara. Kedua formasi hal yang demikian kemudian ditutupi secara tak selaran oleh endapan gunungapi kuarter. Pada Miosen Akhir diendapkan pula batugamping Formasi Parigi secara selaras diatas Formasi Cibulakan. Diatas Formasi Parigi diendapkan batulempung dan napal menyerpih member Formasi Subang berumur Miosen Akhir yang kemudian ditutupi oleh Formasi Kaliwangu berupa batulempung, batupasir, napal, dan sisipan konglomerat berumur Pliosen Permulaan. Kemudian pada Pliosen Akhir — Pleistosen Permulaan diendapkan Formasi Citalang diatas Formasi Kaliwangu berupa batupasir, konglomerat, dan breksi yang berasal dari lidah Formasi Tambakan berumur Pleistosen Awal.

Menurut Peta Geologi Lembar Bandung oleh Silitonga (1973), daerah penelitian terdiri dari enam satuan batuan dari tua ke muda yaitu:

• Formasi Subang (Msc)

Formasi Subang didominasi oleh litologi batulempung berlapis dengan setempat ditemukan lapisan-lapisan batugamping dan napal. Menurut peta geologi lembar Bandung oleh Silitonga (1973), formasi ini berumur Miosen Akhir dengan ketebalan sekitar 2900 m (Tjia, 1963).

• Formasi Kaliwangu (Pk)

Formasi Kaliwangu terdiri dari litologi batupasir tufa, konglomerat, batulempung, dan setempat ditemukan batupasir gampingan dan batugamping. Berdasarkan peta geologi lembar Bandung oleh Silitonga (1973), formasi ini berumur Miosen Akhir-Pliosen dengan ketebalan sekitar 600 m.

• Formasi Tjitalang (Pt)

Formasi Tjitalang terdiri dari litologi napal tufaan, disisipi oleh batupasir tufaan dan konglomerat (Silitonga, 1973). Formasi ini berumur Pliosen dengan ketebalan lapisan 500–600 m.

• Batupasir Tufaan, Lempung, dan Konglomerat (Qos)

Batupasir Tufaan, Lempung, dan Konglomerat mempunyai ciri litologi batupasir tufa, kadang mengandung batuapung lempung, konglomerat, breksi, dan pasir halus, dan berumur Kuarter (Silitonga, 1973).

• Batuan Hasil Gunungapi Lebih Tua (Qob)

Batuan Hasil Gunungapi Muda Tak Teruraikan memiliki umur Kuarter dengan ketebalan sekitar 600 m yang mana dicirikan dengan litologi breksi, lahar, dan batupasir tufa berlapis dengan kemiringan landai (Silitonga, 1973). Menurut peta geologi gunungapi lembar Gunung Tangkuban Parahu oleh Soetoyo dan Hadisantono (1992), pada formasi ini juga ditemukan basalt hasil dari Lava Kandangsapi dan andesit porfiritik hasil dari endapan Lava Gunung Pra Sunda.

• Batuan Hasil Gunungapi Muda Tidak Teruraikan (Qyu)

Batuan Hasil Gunungapi Lebih Tua berumur Kuarter dengan penciri litologi berupa pasir tufaan, lapili, breksi, lava, dan aglomerat yang berasal dari Gunung Tangkubanparahu dan Gunung Tampomas (Silitonga, 1973). Batuan ini membentuk kenampakan dataran-dataran kecil dan bukit-bukit rendah yang ditutupi oleh tanah berwarna abu-abu kekuningan dan kemerah-merahan.

Struktur Geologi

Pula Jawa yaitu busur kepulauan yang mana pembentukan dan pola strukturnya diakibatkan oleh interaksi konvergen antara Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik. Menurut Hamilton (1979), terjadi pergerakan ke arah utara dari Lempeng Indo-Australia, pergerakan ke arah baratlaut Lempeng Pasifik, dan Lempeng Eurasia relatif tak bergerak. Pergerakan ke arah utara Lempeng Indo-Australia menyebabkan terjadinya penunjaman ke bawah Lempeng Eurasia.

Berdasarkan Pulunggono dan Martodjojo (1994), secara regional pola struktur yang berkembang di Jawa Barat tebagi menjadi tiga pola struktur berdasarkan arah kelurusan dominannya, merupakan:

• Pola Meratus berarah baratdaya-timurlaut, diwakili Sesar Cimadiri di Jawa Barat, yang bisa ditiru ke timurlaut hingga batar timur Cekungan Zaitun dan Cekungan Biliton.

• Pola Sunda berarah utara-selatan, diwakili sesar-sesar yang mengontrol Cekungan Asri, Cekungan Sunda, dan Cekungan Arjuna.

• Pola Jawa berarah barat-timur, diwakili sesar-sesar naik seperti Sesar Baribis, serta sesar-sesar naik di dalam Zona Bogor pada zona fisiografi van Bemmelen (1949).

Menurut sketsa pola struktur biasa di Jawa Barat (Pulunggono dan Martodjojo, 1994) serta Peta Geologi Lembar Bandung (Silitonga, 1973), pola struktur yang berkembang di tempat penelitian yakni Pola Sunda dan Pola Jawa. Pola Sunda yang ada di daerah penelitian diwakili oleh sesar mengiri dengan jurus berarah utara-selatan, sementara Pola Jawa diwakili oleh antiklin dengan sumbu antiklin berarah cenderung barat-timur.

Hidrogeologi Regional

Berdasarkan UU no. 7 tahun 2004, cekungan air tanah (CAT) yakni suatu wilayah yang dikontrol oleh batas hidrogeologis, tempat segala kejadian hidrogeologis seperti proses pengimbuhan, pengaliran, dan pelepasan air tanah berlangsung. Berdasarkan PP №43 Tahun 2008, kriteria CAT yaitu:

• memiliki batas hidrogeologis yang dibatasi oleh kondisi geologis dan/atau situasi hidraulik air tanah;

• memiliki tempat imbuhan dan tempat lepasan air tanah dalam satu cara pembentukan air tanah; dan

• mempunyai satu kesatuan sistem akuifer.

Secara regional, daerah penelitian termasuk kedalam Peta Hidrogeologi Lembar Cianjur (Soetrisno, 1985) seperti pada Gambar 5. Merujuk pada peta tersebut, tempat penelitian terdiri dari produktivitas sedang persebaran luas, akuifer setempat produktif, produktivitas rendah setempat berarti, dan airtanah langka, dengan jenis aliran melewati celah dan ruang antar butir.

Akuifer produktivitas sedang penyebaran luas mempunyai transmisivitas yang pelbagai, elevasi muka airtanah umumnya dalam, debit pemunculan mataair bermacam-macam, dan debit sumur biasanya kurang dari 5 liter/detik. Variasi akuifer ini dibentuk oleh endapan volkanik tua yang terdiri dari breksi, lava, dan tufa, dan mempunyai permeabilitas yang rendah hingga sedang. Tipe akuifer ini tersebar pada komponen selatan tempat penelitian.

Akuifer setempat produktif mempunyai transmisivitas yang berbagai, elevasi muka airtanah lazimnya dalam, dan debit pemunculan mataair umumnya kecil. Jenis akuifer ini lazimnya tak dimanfaatkan sebab elevasi yang dalam. Ragam akuifer ini disusun oleh endapan volkanik tidak teruraikan yang terdiri produk gunungapi yang telah terkonsolidasi ataupun belum, dan mempunyai permeabilitas yang rendah sampai sedang. Tipe akuifer ini tersebar pada bagian tenggara tempat penelitian.

Akuifer produktivitas rendah setempat berarti mempunyai transmisivitas rendah, elevasi muka airtanah umumnya dalam namun masih dapat manfaatkan, dan debit pemunculan mataair umumnya kecil. Pada daerah jurang dan area pelapukan, elevasi air tanah umumnya dangkal. Jenis akuifer ini disusun oleh batuan sedimen dan endapan volkanik tua, dan memiliki permeabilitas yang sedang hingga tinggi. Macam akuifer ini tersebar pada komponen tenggara dan beberapa kecil di utara tempat penelitian.

Daerah airtanah langka ialah daerah yang mana airtanahnya tak bisa dieksploitasi atau tidak ada air tanah yang cukup berarti untuk dieksploitasi. Tempat ini biasanya terdiri dari litologi batulempung dan napal dengan permeabilitas rendah hingga sangat rendah. Variasi akuifer ini menmpati beberapa besar daerah penelitian yang tersebar pada bagian tengah, utara, timur, dan barat daerah penelitian.

Sumber: https://medium.com/tugas-akhir/geologi-hidrogeologi-regional-ad1666b2c1e5

A Secret Weapon For peta geologi

Geologi yaitu ilmu (sains) yang mempelajari bumi, komposisinya, struktur, sifat-sifat jasmaniah, sejarah, dan pengerjaan pembentukannya.

Orang yang mempelajari geologi disebut geolog. Mereka telah menolong dalam menentukan usia bumi yang diperkirakan sekitar 4.5 miliar (4.5×109) tahun, dan juga menemukan bahwa kulit bumi terpecah menjadi lempeng tektonik yang bergerak di atas mantel yang setengah cair (astenosfer) melalui pelaksanaan yang kerap kali disebut tektonik lempeng. Geolog membantu menemukan dan mengatur sumber energi alam yang ada di bumi, seperti minyak bumi, batu bara, dan juga metal seperti besi, tembaga, dan uranium, serta mineral lainnya yang mempunyai peta geologi nilai ekonomi, seperti asbestos, perlit, mika, fosfat, zeolit, tanah liat, batuapung, kuarsa, dan silika, dan juga unsur lainnya seperti belerang, klorin, dan helium.

Astrogeologi yaitu aplikasi ilmu geologi seputar planet lainnya dalam tata surya (solar cara). Tetapi istilah khusus lainnya seperti selenology (pembelajaran seputar bulan), areologi (pelajaran tentang planet Mars), dan lain-lain, juga diaplikasikan.

Kata geologi pertama kali diterapkan oleh Jean-André Deluc pada tahun 1778 dan disajikan sebagai istilah yang baku oleh Horace-Bénédict de Saussure pada tahun 1779.

Bidang disiplin atau yang berkaitan

1. geoarkeologi

2. geodesi

3. geofisika (bahasa Inggris: geophysics)

3.1 geofisika reservoir

3.2 geofisika lingkungan

4. geokimia (bahasa Inggris: geochemistry)

4.1 biogeokimia

4.2 geokimia isotop

5. geokronologi

6. geologi ekonomi

6.1 geologi minyak bumi

6.2 geologi tambang

7. geologi rekayasa

8. geologi panas bumi

9. geologi lingkungan

10. geologi struktur

11. geologi sejarah

12. geomikrobiologi

13. geomorfologi

14. glaciologi

15. hidrogeologi

16. ilmu bumi (bahasa Inggris: geography)

17. ilmu tanah

18. mineralogi

19. oseanografi

19.1 geologi kelautan

20. paleoklimatologi

21. paleontologi

21.1 mikropaleontologi

21.2 palinologi

22. petrofisik

23. petrologi

23.1 batuan beku

23.2 batuan metamorf

24. batuan sedimen

25. sedimentologi

26. seismologi

27. speleologi

28. stratigrafi

28.1 biostratigrafi

28.2 kronostratigrafi

28.3 litostratigrafi

29. tektonik lempeng

30. vulkanologi

peta geologi – An Overview

Geologi adalah ilmu (sains) yang mempelajari bumi, komposisinya, struktur, sifat-sifat lahiriah, sejarah, dan pengerjaan pembentukannya.

Orang yang mempelajari geologi disebut geolog. Mereka sudah menolong dalam mempertimbangkan umur bumi yang diperkirakan sekitar 4.5 miliar (4.5×109) tahun, dan juga menemukan bahwa kulit bumi terpecah menjadi lempeng tektonik yang bergerak di atas mantel yang separo cair (astenosfer) melewati pengerjaan yang sering disebut tektonik lempeng. Geolog menolong menemukan peta geologi dan membatasi sumber kekuatan alam yang ada di bumi, seperti minyak bumi, batu bara, dan juga metal seperti besi, tembaga, dan uranium, serta mineral lainnya yang mempunyai nilai ekonomi, seperti asbestos, perlit, mika, fosfat, zeolit, tanah liat, batuapung, kuarsa, dan silika, dan juga elemen lainnya seperti sulfur, klorin, dan helium.

Astrogeologi yakni aplikasi ilmu geologi seputar planet lainnya dalam tata surya (solar metode). Tapi istilah khusus lainnya seperti selenology (pelajaran seputar bulan), areologi (pembelajaran tentang planet Mars), dan lain-lain, juga dipakai.

Kata geologi pertama kali diaplikasikan oleh Jean-André Deluc pada tahun 1778 dan diperkenalkan sebagai istilah yang baku oleh Horace-Bénédict de Saussure pada tahun 1779.

Bidang disiplin atau yang berhubungan

1. geoarkeologi

2. geodesi

3. geofisika (bahasa Inggris: geophysics)

3.1 geofisika reservoir

3.2 geofisika lingkungan

4. geokimia (bahasa Inggris: geochemistry)

4.1 biogeokimia

4.2 geokimia isotop

5. geokronologi

6. geologi ekonomi

6.1 geologi minyak bumi

6.2 geologi tambang

7. geologi rekayasa

8. geologi panas bumi

9. geologi lingkungan

10. geologi struktur

11. geologi sejarah

12. geomikrobiologi

13. geomorfologi

14. glaciologi

15. hidrogeologi

16. ilmu bumi (bahasa Inggris: geography)

17. ilmu tanah

18. mineralogi

19. oseanografi

19.1 geologi kelautan

20. paleoklimatologi

21. paleontologi

21.1 mikropaleontologi

21.2 palinologi

22. petrofisik

23. petrologi

23.1 batuan beku

23.2 batuan metamorf

24. batuan sedimen

25. sedimentologi

26. seismologi

27. speleologi

28. stratigrafi

28.1 biostratigrafi

28.2 kronostratigrafi

28.3 litostratigrafi

29. tektonik lempeng

30. vulkanologi

peta geologi – An Overview

Geologi regional ialah info tentang tatanan geologi suatu tempat dengan cakupan dan skala yang relatif luas. Geologi regional perlu dipelajari untuk memberikan ilustrasi awam situasi geologi di tempat penelitian dan menjadi dasar untuk dijalankannya interpretasi awal elemen-unsur geologi yang mempengaruhi situasi geologi daerah penelitian. Unsur-elemen geologi yang bisa ditinjau secara regional yakni fisiografi, morfologi, stratigrafi, dan struktur geologi regional.

Fisiografi dan Morfologi

Van Bemmelen (1949) membagi fisiografi Jawa Barat menjadi empat area, adalah:

• Dataran Aluvial Utara Jawa Barat (Alluvial Plains of Northern Java)

Area ini berlokasi paling utara, memanjang dari ujung barat Pulau Jawa sampai ke kota Cirebon dengan lebar area sekitar 40 km. Zona ini memiliki morfologi berupa dataran yang lazimnya ditutupi endapan sungai dan beberapa tertutupi endapan lahar gunungapi kuarter.

• Area Bogor (Bogor Antiklinorium)

Area Bogor membentang barat-timur dari Rangkasbitung, Bogor, Purwakarta, Subang, dan Sumedang, hingga ke Bumiayu di timur Area Bogor, dengan lebar area diperkirakan optimal 40 km. Area Bogor mempunyai kenampakan berupa perbukitan rendah dengan struktur utama antiklin yang terlipat kuat berarah sumbu barat-timur. Di komponen timur Area Bogor sumbunya berubah arah menjadi berarah barat laut-tenggara, sehingga area Area Bogor tampak sedikit melengkung dan lebih cembung di batas zona komponen utara. Bagian inti dari Antiklinorium Bogor terdiri dari lapisan-lapisan batuan sedimen berumur Miosen, meskipun kedua sayap antiklinnya terwujud oleh lapisan-lapisan batuan berumur Pliosen hingga Pleistosen Bawah. Setempat terdapat tubuh intrusi yang menyusun morfologi relief curam seperti G. Kromong di Cirebon dan G. Sanggabuana di Purwakarta.

• Zona Bandung (Central Depression Zone of Java)

Area ini memiliki kenampakan depresi diantara gunung-gunung muda yang memrentang menyusun lengkungan dari Pelabuhan Ratu mencontoh Jurang Cimandiri, melewati Kota Bandung, hingga ke Segara Anakan di muara S. Citanduy, dengan lebar zona antara 20–40 km. Menurut Van Bemmelen (1949), Zona Bandung awalnya yaitu puncak geantiklin Jawa Barat yang kemudian ambruk setelah terjadinya uplift dan terisi endapan gunungapi muda. Dibeberapa tempat terdapat tinggian yang terwujud dari endapan sedimen tua seperti G. Walat di Sukabumi dan Perbukitan Rajamandala di Kabupaten Bandung.

• Pegunungan Selatan Jawa Barat (Southern Mountain)

Pannekoek (1946) membagi area ini kedalam 19 morfologi dan terjadinya dua generasi morfologi ialah morfologi Pra-Miosen Akhir dan morfologi Resen yang dikuasai oleh ketidak selarasan. Batas zona Pegunungan Selatan Jawa Barat dengan Zona Bandung bisa menonjol dengan perbedaan morfologi perbukitan bergelombang pada Area Bandung berbatasan dengan dataran tinggi area Pegunungan Selatan Jawa Barat.

Stratigrafi

Berdasarkan mayoritas ciri sedimennya pada Zaman Tersier, secara umum Martodjojo (1984) membagi daerah Jawa Barat kedalam tiga mandala sedimentasi:

• Mandala Paparan Kontinen

Mandala ini berada di utara Mandala Cekungan Bogor dan lokasnya sama dengan Zona Dataran Pantai Jakarta pada pembagian zona fisiografi Jawa Barat oleh van Bemmelen (1949). Mandala ini dicirikan oleh endapan paparan yang biasanya terdiri dari batugamping, batulempung, dan batupasir kuarsa, serta lingkungan pengendapan lazimnya laut dangkal dengan ketebalan sedimen bisa menempuh 5000 m. Pada mandala ini pola transgresi dan regresi umumnya jelas kelihatan.

• Mandala Cekungan Bogor

Mandala ini berlokasi di selatan Mandala Paparan Kontinen yang mencakup beberapa Zona Fisiografi van Bemmelen (1949), yaitu: Area Bogor, Area Bandung, dan Area Pegunungan Selatan. Ciri mandala ini berupa endapan aliran gravitasi, yang umumnya berupa fragmen batuan beku dan batuan sedimen, seperti: andesit, basalt, tuf, dan batugamping, dengan ketebalan diperkirakan lebih dari 7000 m.

• Mandala Banten

Mandala Banten berlokasi di timur dari Mandala Paparan Kontinen dan Mandala Cekungan Bogor. Mandala ini tidak mempunyai ciri yang seperti itu terang sebab sedikitnya data yang diketahui. Pada usia Tersier Permulaan, mandala ini lebih menyerupai Mandala Paparan Kontinen, padahal pada Tersier Akhir cirinya betul-betul mendekati Mandala Cekungan Bogor.

Menurut Martodjojo (1984), formasi tertua yang menjadi dasar dari Mandala Cekungan Bogor adalah Formasi Ciletuh yang berumur Eosen Awal. Formasi ini diendapkan diatas kompleks Mélange Ciletuh. Ciri litologi formasi ini berupa batulempung dan batupasir kuarsa dengan sisipan breksi, kaya fragmen batuan metamorf dan batuan beku ultrabasa. Komponen bawah dari formasi ini ditafsirkan sebagai endapan lereng atas dari suatu sistem akresi, berubah secara berangsur menjadi ke menjadi endapan linkungan laut dangkal di bagian atasnya. Pada Eosen Permulaan diendapkan pula Formasi Jatibarang dengan ciri batuan beku, tufa, dan sisipan batugamping.

Pada umur Eosen Tengah sampai akhir diendapkan secara selaras Formasi Bayah diatas Formasi Ciletuh yang mempunyai ciri litologi batupasir kuarsa dan batulempung sisipan batubara. Menurut Martodjojo (1984) diperkirakan lingkungan pengendapan formasi ini ialah darat hingga laut dangkal. Kemudian pada Oligosen Akhir diendapkan secara tidak selaras Formasi Batuasih dengan ciri litologi batulempung, napal sisipan batupasir kuarsa. Berdasarkan ciri batuannya, diperkirakan lingkungan pengandapan Formasi Batuasih yaitu lingkungan transisi.

Berbarengan dengan Formasi Batuasih, pada Oligosen Akhir hingga Miosen Awal diendapkan Formasi Rajamandala secara tidak selaras diatas Formasi Bayah dan secara lateral bagian bawah Formasi Rajamandala menjari dengan Formasi Batuasih (Martodjojo, 1984). Formasi Rajamandala mempunyai ciri litologi berupa batugamping berlapis, dan di beberapa daerah berkembang sebagai terumbu (Ps. Pabeasan dan Tjahyo Hadi, 1972 dalam Martodjojo, 1984). Secara lateral variasi batugamping formasi ini banyak berubah. Lingkungan pengendapan Formasih Rajamandala yaitu laut dangkal.

Pada Miosen Permulaan diendapakan Formasi Citarum dengan litologi batulempung napalan, napal, batupasir, hingga batupasir konglomerat, dengan mekanisme pembentukannya merupakan aliran gravitasi. Pada ketika yang sama diendapkan pula Formasi Jampang yang terdiri dari breksi dan tuf di selatan Formasi Citarum. Diinterpretasikan kedua formasi hal yang demikian merupakan satu metode kipas laut dalam.

Pada Miosen Tengah diendapkan Formasi Saguling dengan litologi breksi secara selaras diatas Formasi Citarum dengan mekanisme endapan turbidit. Pada Miosen Tengah juga diendapkan Formasi Cibulakan dengan ciri litologi berupa napal, batulempung, dan batulempung gampingan secara tidak serasi diatas Formasi Jatibarang.

Kemudian pada Miosen Tengah — Akhir Formasi Saguling ditutupi secara selaras oleh batulempung dan greywacke anggota Formasi Bantargadung. Kemudian Formasi Bantargadung ditutupi oleh breksi Formasi Cigadung dan breksi Formasi Cantayan di utara. Kedua formasi tersebut kemudian ditutupi secara tak selaran oleh endapan gunungapi kuarter. Pada Miosen Akhir diendapkan pula batugamping Formasi Parigi secara selaras diatas Formasi Cibulakan. Diatas Formasi Parigi diendapkan batulempung dan napal menyerpih member Formasi Subang berumur Miosen Akhir yang kemudian ditutupi oleh Formasi Kaliwangu berupa batulempung, batupasir, napal, dan sisipan konglomerat berumur Pliosen Awal. Kemudian pada Pliosen Akhir — Pleistosen Awal diendapkan Formasi Citalang diatas Formasi Kaliwangu berupa batupasir, konglomerat, dan breksi yang berasal dari lidah Formasi Tambakan berumur Pleistosen Permulaan.

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Bandung oleh Silitonga (1973), daerah penelitian terdiri dari enam satuan batuan dari tua ke muda adalah:

• Formasi Subang (Msc)

Formasi Subang didominasi oleh litologi batulempung berlapis dengan setempat ditemukan lapisan-lapisan batugamping dan napal. Berdasarkan peta geologi lembar Bandung oleh Silitonga (1973), formasi ini berumur Miosen Akhir dengan ketebalan sekitar 2900 m (Tjia, 1963).

• Formasi Kaliwangu (Pk)

Formasi Kaliwangu terdiri dari litologi batupasir tufa, konglomerat, batulempung, dan setempat ditemukan batupasir gampingan dan batugamping. Menurut peta geologi lembar Bandung oleh Silitonga (1973), formasi ini berumur Miosen Akhir-Pliosen dengan ketebalan sekitar 600 m.

• Formasi Tjitalang (Pt)

Formasi Tjitalang terdiri dari litologi napal tufaan, diselingi oleh batupasir tufaan dan konglomerat (Silitonga, 1973). Formasi ini berumur Pliosen dengan ketebalan lapisan 500–600 m.

• Batupasir Tufaan, Lempung, dan Konglomerat (Qos)

Batupasir Tufaan, Lempung, dan Konglomerat memiliki ciri litologi batupasir tufa, kadang mengandung batuapung lempung, konglomerat, breksi, dan pasir halus, dan berumur Kuarter (Silitonga, 1973).

• Batuan Hasil Gunungapi Lebih Tua (Qob)

Batuan Hasil Gunungapi Muda Tak Teruraikan mempunyai umur Kuarter dengan ketebalan sekitar 600 m yang mana dicirikan dengan litologi breksi, lahar, dan batupasir tufa berlapis dengan kemiringan landai (Silitonga, 1973). Berdasarkan peta geologi gunungapi lembar Gunung Tangkuban Parahu oleh Soetoyo dan Hadisantono (1992), pada formasi ini juga ditemukan basalt hasil dari Lava Kandangsapi dan andesit porfiritik hasil dari endapan Lava Gunung Pra Sunda.

• Batuan Hasil Gunungapi Muda Tidak Teruraikan (Qyu)

Batuan Hasil Gunungapi Lebih Tua berumur Kuarter dengan penciri litologi berupa pasir tufaan, lapili, breksi, lava, dan aglomerat yang berasal dari Gunung Tangkubanparahu dan Gunung Tampomas (Silitonga, 1973). Batuan ini menyusun kenampakan dataran-dataran kecil dan bukit-bukit rendah yang ditutupi oleh tanah berwarna abu-abu kekuningan dan kemerah-merahan.

Struktur Geologi

Pula Jawa adalah busur kepulauan yang mana pembentukan dan pola strukturnya diakibatkan oleh interaksi konvergen antara Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik. Menurut Hamilton (1979), terjadi pergerakan ke arah utara dari Lempeng Indo-Australia, pergerakan ke arah baratlaut Lempeng Pasifik, dan Lempeng Eurasia relatif tak bergerak. Pergerakan ke arah utara Lempeng Indo-Australia menyebabkan terjadinya penunjaman ke bawah Lempeng Eurasia.

Menurut Pulunggono dan Martodjojo (1994), secara regional pola struktur yang berkembang di Jawa Barat tebagi menjadi tiga pola struktur berdasarkan arah kelurusan dominannya, ialah:

• Pola Meratus berarah baratdaya-timurlaut, diwakili Sesar Cimadiri di Jawa Barat, yang bisa ditiru ke timurlaut sampai batar timur Cekungan Zaitun dan Cekungan Biliton.

• Pola Sunda berarah utara-selatan, diwakili sesar-sesar yang mengendalikan Cekungan Asri, Cekungan Sunda, dan Cekungan Arjuna.

• Pola Jawa berarah barat-timur, diwakili sesar-sesar naik seperti Sesar Baribis, serta sesar-sesar naik di dalam Zona Bogor pada area fisiografi van Bemmelen (1949).

Berdasarkan sketsa pola struktur awam di Jawa Barat (Pulunggono dan Martodjojo, 1994) serta Peta Geologi Lembar Bandung (Silitonga, 1973), pola struktur yang berkembang di tempat penelitian adalah Pola Sunda dan Pola Jawa. Pola Sunda yang ada di daerah penelitian diwakili oleh sesar mengiri dengan jurus berarah utara-selatan, sementara Pola Jawa diwakili oleh antiklin dengan sumbu antiklin berarah cenderung barat-timur.

Hidrogeologi Regional

Menurut UU no. 7 tahun 2004, cekungan air tanah (CAT) merupakan suatu kawasan yang dibatasi oleh batas hidrogeologis, tempat segala kejadian hidrogeologis seperti cara kerja pengimbuhan, pengaliran, dan pelepasan air tanah berlangsung. Menurut PP №43 Tahun 2008, kriteria CAT ialah:

• mempunyai batas hidrogeologis yang dibatasi oleh kondisi geologis dan/atau keadaan hidraulik air tanah;

• mempunyai tempat imbuhan dan tempat lepasan air tanah dalam satu metode pembentukan air tanah; dan

• memiliki satu kesatuan cara akuifer.

Secara regional, daerah penelitian termasuk kedalam Peta Hidrogeologi Lembar Cianjur (Soetrisno, 1985) seperti peta geologi pada Gambar 5. Mengacu pada peta tersebut, daerah penelitian terdiri dari produktivitas sedang persebaran luas, akuifer setempat produktif, produktivitas rendah setempat berarti, dan airtanah langka, dengan ragam aliran melewati celah dan ruang antar butir.

Akuifer produktivitas sedang penyebaran luas mempunyai transmisivitas yang berbagai, elevasi muka airtanah umumnya dalam, debit pemunculan mataair beraneka, dan debit sumur biasanya kurang dari 5 liter/detik. Variasi akuifer ini disusun oleh endapan volkanik tua yang terdiri dari breksi, lava, dan tufa, dan memiliki permeabilitas yang rendah sampai sedang. Macam akuifer ini tersebar pada komponen selatan daerah penelitian.

Akuifer setempat produktif mempunyai transmisivitas yang berjenis-jenis, elevasi muka airtanah biasanya dalam, dan debit pemunculan mataair umumnya kecil. Macam akuifer ini lazimnya tidak dimanfaatkan sebab elevasi yang dalam. Macam akuifer ini dibentuk oleh endapan volkanik tidak teruraikan yang terdiri produk gunungapi yang telah terkonsolidasi maupun belum, dan mempunyai permeabilitas yang rendah sampai sedang. Ragam akuifer ini tersebar pada bagian tenggara daerah penelitian.

Akuifer produktivitas rendah setempat berarti memiliki transmisivitas rendah, elevasi muka airtanah biasanya dalam tetapi masih bisa manfaatkan, dan debit pemunculan mataair lazimnya kecil. Pada tempat jurang dan zona pelapukan, elevasi air tanah lazimnya dangkal. Variasi akuifer ini dibentuk oleh batuan sedimen dan endapan volkanik tua, dan memiliki permeabilitas yang sedang hingga tinggi. Tipe akuifer ini tersebar pada bagian tenggara dan beberapa kecil di utara daerah penelitian.

Daerah airtanah langka adalah daerah yang mana airtanahnya tidak dapat dieksploitasi atau tak ada air tanah yang cukup berarti untuk dieksploitasi. Tempat ini lazimnya terdiri dari litologi batulempung dan napal dengan permeabilitas rendah sampai sangat rendah. Tipe akuifer ini menmpati sebagian besar daerah penelitian yang tersebar pada komponen tengah, utara, timur, dan barat daerah penelitian.

Sumber: https://medium.com/tugas-akhir/geologi-hidrogeologi-regional-ad1666b2c1e5

Introduce Yourself (Example Post)

This is an example post, originally published as part of Blogging University. Enroll in one of our ten programs, and start your blog right.

You’re going to publish a post today. Don’t worry about how your blog looks. Don’t worry if you haven’t given it a name yet, or you’re feeling overwhelmed. Just click the “New Post” button, and tell us why you’re here.

Why do this?

  • Because it gives new readers context. What are you about? Why should they read your blog?
  • Because it will help you focus you own ideas about your blog and what you’d like to do with it.

The post can be short or long, a personal intro to your life or a bloggy mission statement, a manifesto for the future or a simple outline of your the types of things you hope to publish.

To help you get started, here are a few questions:

  • Why are you blogging publicly, rather than keeping a personal journal?
  • What topics do you think you’ll write about?
  • Who would you love to connect with via your blog?
  • If you blog successfully throughout the next year, what would you hope to have accomplished?

You’re not locked into any of this; one of the wonderful things about blogs is how they constantly evolve as we learn, grow, and interact with one another — but it’s good to know where and why you started, and articulating your goals may just give you a few other post ideas.

Can’t think how to get started? Just write the first thing that pops into your head. Anne Lamott, author of a book on writing we love, says that you need to give yourself permission to write a “crappy first draft”. Anne makes a great point — just start writing, and worry about editing it later.

When you’re ready to publish, give your post three to five tags that describe your blog’s focus — writing, photography, fiction, parenting, food, cars, movies, sports, whatever. These tags will help others who care about your topics find you in the Reader. Make sure one of the tags is “zerotohero,” so other new bloggers can find you, too.

Create your own website, free on WordPress.com.Create your own website.
Start free